Seorang pekerja mengangkut tembakau yang telah dikemas dalam bambu di industri Usaha Kecil Menengah(UKM) Tembakau Adidie di kawasan Tinumbu, Makassar, 30 Mei 2016. Adidie merukapan UKM Tembakau tradisional yang tersisa di Makassar. TEMPO/Iqbal Lubis

Pekerja menyiapkan tembakau yang telah dikemas dalam bambu untuk proses pengasapan di industri Usaha Kecil Menengah (UKM) Tembakau Adidie di kawasan Tinumbu, Makassar, 30 Mei 2016. UKM tembakau tradisional yang berdiri sejak tahun 1962 masih mengandalkan peralatan manual dan tradisional. TEMPO/Iqbal Lubis

Peralatan tradisional secara manual yang digunakan pekerja di industri UKM Tembakau Adidie kawasan Tinumbu, Makassar, 30 Mei 2016. UKM tembakau ini terdesak akibat perkembangan zaman dan banyaknya jenis rokok. TEMPO/Iqbal Lubis

Pekerja melakukan proses Magottang, atau memisahkan daun tembakau yang terkena campuran gula merah dengan yang masih kering di industri UKM Tembakau Adidie, Makassar, 30 Mei 2016. Dinamakan Adidie, karena pekerja menggunakan Daun Nyiur (lidi atau adidie) dalam pembuatan tembakau tradisional Makassar tersebut. TEMPO/Iqbal Lubis

Campuran gula merah saat proses pengisian tembakau ke dalam bambu di industri UKM Tembakau Adidie di Makassar, 30 Mei 2016. Tembakau ini hanya berproduksi jika ada pesanan dari luar Makassar dan dijual dengan harga Rp 15.000 sampai Rp 20.000 untuk satu ikat tembakau jadinya. TEMPO/Iqbal Lubis

Kondisi ruang produksi di industri UKM Tembakau Adidie, Makassar, 30 Mei 2016. Hanya tersisa 5 pekerja dari 20 pekerja, akibat menurunnya produksi tembakau tradisonal sejak tahun 2007. TEMPO/Iqbal Lubis