Pekerja menyalin huruf arab pada zing plate saat mencetak Alquran Braille di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG), Bandung, Selasa, 14 Mei 2019. Yayasan ini memproduksi Alquran Braille dengan menggunakan mesin cetak kuno merk Thomson tahun 1952. TEMPO/Prima Mulia

Pekerja mencetak Alquran Braille dengan mesin kuno di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG), Bandung, Selasa, 14 Mei 2019. Mesin cetak Braille itu merupakan mesin satu-satunya di dunia yang masih berfungsi dari total 6 mesin yang pernah dibuat oleh pabrik Thomson. TEMPO/Prima Mulia

Pekerja menunjukkan master zinc plate untuk pencetakan Alquran Braille dengan mesin kuno di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG), Bandung, Selasa, 14 Mei 2019. Menurut Ketua Sekretariat YPWG, mesin cetak ini merupakan sumbangan dari Hellen Keller, perempuan Amerika penyandang disabilitas, yang diterima presiden pertama RI Ir Soekarno pada 1952. TEMPO/Prima Mulia

Pekerja mencetak Alquran Braille dengan mesin kuno di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG), Bandung, Selasa, 14 Mei 2019. Pada 1962, mesin tersebut didatangkan ke yayasan itu karena dinilai Bandung mempunyai Blind Institute yang didirikan oleh C.H.A. Westhoff sejak 1901. TEMPO/Prima Mulia

Pekerja menyelesaikan pencetakan Alquran Braille dengan mesin kuno di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG), Bandung, Selasa, 14 Mei 2019. Dalam sebulan, yayasan ini mampu memproduksi 100 set Alquran Braille menggunakan mesin berumur tua itu. TEMPO/Prima Mulia