Petugas medis memberikan pertolongan pertama pada mata seorang demonstran yang terluka akibat ikuti demonstrasi atas pemerintahan Chile di Santiago, Chile, 14 November 2019. Dalam aksi demonstrasi atas kesenjangan sosial tersebut, pengunjuk rasa terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. REUTERS/Jorge Silva

Seorang demonstran menunjukkan peluru pelet dan kartrijnya yang digunakan oleh polisi anti huru hara selama protes terhadap pemerintah Chili di Valparaiso, Chili 12 November 2019. Dalam memukul mundur demonstran yang terus protes atas Kepemerintahan, aparat kepolisian mengenakan peluru pelet, gas air mata dan meriam air. REUTERS/Rodrigo Garrido

Seorang demonstran yang terluka dibantu oleh rekannya selama protes terhadap pemerintah Chili di Santiago, Chili 15 November 2019. Diketahui lebih dari 200 demonstran di Chile dilaporkan mengalami kebutaan sebagian dan total setelah terkena peluru pelet yang ditembakkan oleh aparat kepolisian. REUTERS/Ivan Alvarado

Jean Espinoza, 22, memperlihatkan salah matanya yang buta usai terkena tembakan peluru pelet oleh petugas kepolisian di dalam kamar hotel Christopher Astudillo di Santiago, Chili, 11 November 2019. Medical College of Chile, mengumumkan bahwa lebih dari 200 orang kehilangan penglihatan baik sebagian atau pun keseluruhan karena ditembak peluru pelet. REUTERS/Jorge Silva

Petugas medis memberikan pertolongan pertama pada seorang demonstran, Felipe Berrios yang merasa matanya terkena tembakan peluru pelet oleh seorang perwira polisi anti huru hara, dalam aksi demonstrasi di Santiago, Chili 13 November 2019. Wakil presiden Medical College of Chile, Dr. Patricio Meza, mengatakan dari ratusan demonstran yang mengalami kebutaan, 50 orang di antaranya membutuhkan mata palsu. REUTERS/Ivan Alvarado

Aaron Vega, 29, tiba di ruang gawat darurat di unit trauma okuler di Rumah Sakit del Salvador di Santiago, Chili, 12 November 2019. Mata Vega dipukul dengan tabung gas saat protes sebelumnya hari itu dan kemudian didiagnosis dengan fraktur rongga mata. REUTERS/Jorge Silva